Hujan

fakta-hujan-6

Bulan ini hujan di kota tempat saya tinggal sedang dalam intensitas tertingginya. Dalam sehari, hujan bisa singgah dari pagi hingga petang, bahkan hingga pagi lagi. Bagi pluviophile, ini adalah kebahagian tersendiri namun bagi beberapa yang lain ini sedikit merepotkan.

Para commuter misalnya, hujan di pagi hari akan menimbulkan konsekuensi bagi perjalanan mereka. Paling minim mereka harus membawa payung untuk melindungi badan. Apesnya, mungkin mereka akan basah kuyup karena payung dan mantel tidak cukup menahan hujan. Atau, mereka datang terlambat ke kantor karena jalanan macet atau kereta bermasalah. Akibatnya, mood bekerja menjadi jelek atau seharian uring-uringan.

Alhamdulillah, saya adalah pluviophile dan saya bukan commuter. Hari ini sejak subuh hujan turun sangat deras, dan saya bersyukur karenanya. Cuaca jadi lebih nyaman dan udara di kota ini sedikit lebih sejuk. Lebih bersyukur lagi, saat saya hendak berangkat, hujan reda. Hanya gerimis dan kubangan kecil yang tersisa. Saya bahkan tidak perlu membawa payung atau mantel untuk berjalan menuju kantor. Baju saya tidak basah dan saya pun tidak perlu menggerutui jalanan macet.

Saya menuliskan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri. Atas apa yang tidak saya miliki, rumah atau mungkin kendaraan, Tuhan menggantikannya dengan kemudahaan-kemudahan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Jika ke depan saya merasa tidak-memiliki, ini akan menjadi alarm bahwa kepemilikan terbesar adalah merasa cukup dengan apa yang tersedia sekarang.

Have a blessed day, dears!

FacebookTwitterGoogle+Share

Majalah Bobo

20 Bobo 79 No 2 Th VII

Saat kecil saya sangat suka membaca. Saya lebih memilih berlama-lama di kamar untuk membaca buku ketimbang bermain di luar rumah. Sayangnya saya bukan dari keluarga kaya yang bisa asal tunjuk minta dibelikan buku bacaan yang saya mau. Bahan bacaan saya biasanya adalah buku yang dipinjam di perpustakaan sekolah atau beli majalah bekas di pasar. Pun demikian, saya selalu kegirangan tiap mendapatkan bahan bacaan baru.

Sampai suatu hari, rekan kerja Ayah saya, ‘mewariskan’ koleksi majalah dan ensiklopedi milik anaknya yang sudah berkeluarga. Total ada sekitar 15 bundel majalah Bobo dan 5 bundel ensiklopedi. Satu bundel majalah Bobo berisi sekitar 20 edisi. Setiap edisi paling tidak memuat 2 fabel, 5 cerita fiksi, dan 3 cerita bergambar. Lalu, ensiklopedi-nya memuat ensiklopedi tentang flora dan fauna. Ada juga ensiklopedi tetang alat-alat musik dengan ilustrasi yang super bagus dan super lengkap. Reaksi saya saat itu? I couldn’t thank you enough. 

Majalah dan ensiklopedi tersebut adalah harta (duniawi) saya yang paling berharga saat itu. Saya baca setiap lembarnya seakan saya ingin serap semua kontennya dalam sekejap. Saya pelihara setiap bundel dengan menahan diri tidak melipat atau mencorat-coret isinya. Bahkan untuk lembar khusus mewarnai saya usahakan untuk tetap bersih dan polos. Hehehe.

Lebih dari itu, saya percaya bahwa majalah dan ensiklopedi tersebut telah mengajarkan banyak hal. Fabel, cerita rakyat, pengetahuan alam, dan sastra yang ada di dalamnya adalah metode saja untuk memudahkan ‘saya-kecil’ menyerap kebijaksanaan hidup yang hendak di sampaikan. I’m so grateful about this. Bersyukur bahwa saya tumbuh dalam generasi di mana paparan teknologi belum sekeras sekarang. Bersyukur bahwa pada masa itu ada banyak media yang (amat) bagus untuk saya belajar. Bersyukur bahwa saya diberi kesempatan bertemu bundel majalah Bobo dan ensiklopedi warisan itu dan menyimpan memorinya sampai sekarang.
:’)

 

PS Koleksi majalah dan esiklopedi saya sekarang rusak dan hilang tertimpa runtuhan rumah saat gempa di Jogja tahun 2006.

Original photo from: Majalah Bobo

FacebookTwitterGoogle+Share

Kacau

WP_20150907_002_processed

Akhir-akhir ini saya sedang merasa kacau. Rasanya seperti tidak ada yang berjalan benar di kehidupan saya dalam berbagai aspeknya. Saking kacaunya, tidak ada yang bisa saya tuliskan di sini. Tak perlu kata-kata untuk menggambarkan kekacauan ini.

Tapi satu hal yang saya syukuri…
Suatu buku literatur yang saya acu mengatakan bahwa kekacauan pada berbagai aspek kehidupan biasanya adalah salah satu pemicu orang mulai mengonsumsi obat-obatan terlarang. Dan syukurlah saya tidak. Syukurlah saya di sini, menghadapi kekacauan hidup dengan mata terbuka :-)

 

FacebookTwitterGoogle+Share

Tentang Teh dan Cerita Klien

Sebulan terakhir saya berusaha menghentikan kecanduan saya pada kopi dan menggantinya ke teh. Alasannya bukan karena banyak orang yang mulai mengingatkan mengenai efek kopi, tapi justru karena kakak saya tiba-tiba saja memberi stok teh terlalu banyak di rumah ketika stok kopi saya hampir habis. Sebagai orang yang sangat peduli pada kondisi logistik (ya, saya selalu merasa sayang ketika makanan dan minuman terbuang tidak habis), saya merasa bertanggung jawab untuk menghabiskannya.

Ah, kata-kata saya terlalu manis, padahal maksudnya, karena saya doyan makan dan minum, makanya kalau ada makanan dan minuman pasti buru-buru saya habiskan.

Membuat teh ternyata berbeda dengan membuat kopi. Ketika air mendidih, saya biasanya mendiamkan air hingga agak hangat, baru menyeduh kopi. Tapi teh berbeda. Hanya butuh waktu 2-3 menit untuk menyeduh teh, tapi yang diperlukan adalah air yang benar-benar baru saja mendidih. Kata orang, saya punya pemikiran rumit dan kaku. Dan pelajaran dari teh ini nampaknya akan melenturkan pemikiran saya yang rumit dan kaku.

Saya merasa terganggu ketika menyeduh teh karena air panas yang baru mendidih itu tidaklah tenang. Beberapa tetes air panas itu seringkali terpercik ke tangan saya. Beda sekali dengan menyeduh kopi, yang tak pernah membuat saya kecipratan air panas. Saya kesal. Saya berharap menemukan cara agar air mendidih itu tidak memercik ke tangan saya. Beberapa kali saya mencoba, saya tidak mendapatkan caranya, tapi saya mendapat pelajaran.

Air panas yang baru saja mendidih tentulah tidak setenang air hangat. Itu adalah suatu kepastian. Ketika saya berharap air mendidih itu setenang air hangat, maka saya mengharapkan suatu hal yang tak mungkin. Atau, saya mengharapkan air mendidih itu menjadi air hangat, which means… tidak menjadi dirinya sendiri. Air panas yang terpercik ke tangan saya adalah hal yang memang perlu saya dapatkan untuk dapat menikmati segelas teh yang nikmat.

“Begitulah hidup, Nak. Tidak semua berjalan seperti yang kamu inginkan. Beberapa hal butuh rasa sakit dan pengorbanan,” kata saya pada diri sendiri.

Lalu setelah saya mendapat pelajaran itu, beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan klien saya dalam sesi konseling. Klien ini mirip sifatnya dengan saya. Dalam kelompok, ia sering menjadi pemimpin, ia berusaha kuat untuk mengerjakan tugas dalam kelompok dengan baik, dan ia berharap orang lain juga berusaha sekuat dia. Dalam sesi konseling individual dengan saya, ia tiba-tiba mengeluhkan tentang orang lain yang pernah berbuat kesalahan. Orang tersebut lagi-lagi melakukan kesalahan yang sama meskipun klien saya sudah memberi nasehat dan arahan agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.

Mendengar ceritanya, entah kenapa saya tiba-tiba berkata seperti ini: “Ketika orang lain membuat kesalahan satu kali, mungkin dia khilaf. Namun ketika dia melakukan kesalahannya lagi, meskipun sudah dibantu dan diarahkan, mungkin… mungkin itu bukan kesalahan. Mungkin itu memang hal yang dia inginkan.”

Ya, apa yang dianggap salah oleh kita, mungkin bukanlah suatu kesalahan bagi orang lain. Mungkin diri kita yang terlalu memaksakan mereka menjadi apa yang kita inginkan.

Anyway, setelah bilang seperti itu, saya sendiri kaget dengan apa yang saya katakan. Maklum, masih psikolog kemarin sore. Anggap saja, saya sedang menasehati diri sendiri.

Percikan air panas dari teh mengingatkan saya untuk menerima kondisi (orang) lain apa adanya tanpa menuntut. Cerita klien saya membuat saya tersadar kalau kadang saya terlalu memaksakan orang lain agar sesuai dengan keinginan saya, dan menyalahkan mereka jika keinginan saya tak terjadi. Tuntutan, paksaan, dan penyalahan. Tak ada manusia di dunia ini yang nyaman tenggelam di dalamnya.

Lesson learned.

FacebookTwitterGoogle+Share

Kini saya mengerti

Kini saya mengerti, yang dinamakan cinta adalah bersabar dan percaya, melepaskan semua rasa takut dan cemas, menerima tanpa takut ditinggalkan, dan memberi tanpa ada pamrih. Karena seberapa pun saya berusaha, hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk saya. Saya tak perlu menggenggamnya terlalu erat, saya hanya perlu melepaskannya, dan pasrah kepada suratan terbaik yang ditulis-Nya.

Perlu suatu kesalahan untuk saya menyadarinya. Perlu satu pengorbanan, perlu satu kehilangan, baru saya bisa belajar darinya. Tapi setidaknya, saya bersyukur saya pernah membuat kesalahan itu.

PS: Pardon this melancholic post, I just can’t hold myself to post it.

FacebookTwitterGoogle+Share

Berhenti

WP_20150417_004“Saya udah ngga betah, Mbak.” Kata Bapak berusia sekitar 40 tahun itu, “Saya ngga cocok sama orang-orang di sini. Saya mau pulang aja, atau pindah ke yayasan lain. Masih banyak yayasan kayak gini di Semarang atau Surabaya.”

Kalimat itu cukup membuat saya cemas. Sudah lebih dari sebulan saya melakukan konseling di yayasan ini, yayasan berbasis agama yang menyediakan rehabilitasi bagi para pecandu obat-obatan maupun hal adiktif lainnya. Bapak tersebut sudah mengikuti sesi konseling bersama saya sejak awal. Sebelumnya, ia sering menunjukkan reaksi cemas, jarang bergaul dengan orang lain, sering melamun, dan kurang dapat mengendalikan amarah. Sesi konseling sekali seminggu tampaknya cukup membantu. Perlahan-lahan, saya melihat perkembangan baik dari Bapak ini. Ia juga terlihat lebih ceria dan tak pernah marah-marah lagi.

Sudah dua minggu saya absen melakukan konseling. Dua minggu lalu konseling ditiadakan karena memang long weekend , dan seminggu lalu saya tidak melakukan konseling karena sedang sakit. Dua minggu tidak recharging, Bapak ini tampaknya mengalami penurunan. Lebih dari itu, saya merasa gagal. Ia tetap ngotot ingin menghentikan program rehabilitasinya. Beberapa pertimbangan sudah saya paparkan, beberapa emosi negatif beliau sudah saya refleksikan, namun… tetap saja hingga sesi berakhir keinginan untuk berhenti masih terus ia katakan. Saya menyerah. Ya sudahlah. Kalau memang itu yang terbaik untuknya, saya tak bisa berbuat apa-apa lagi. Setelah semua pertimbangan kami diskusikan, saya serahkan keputusan di tangan beliau.

Hal yang ingin saya syukuri hari ini adalah bahwa saya berhasil menguasai diri saya. Saya tidak memaksanya. Jika seseorang memang menginginkan sesuatu, ia akan berusaha untuk itu. Ia tidak ingin di sini. Jika ia ingin di sini, tidak akan ada masalah yang menghalanginya. Kami sudah berdiskusi dengan kepala dingin, dan ia masih tetap pada pendiriannya. Saya memberikan waktu untuk beliau berpikir dengan tenang, meski saya berharap beliau tidak menghentikan programnya, tapi saya tidak memaksakan. Apa pun yang akan ia putuskan semoga diputuskan dengan hati-hati. Itu yang lebih penting. Sedikit harap saya masih bisa bertemu beliau minggu depan. Tapi jika tidak, semoga keputusan beliau untuk keluar dari yayasan ini membawanya ke jalan yang lebih baik.

Yes, I still want you to be here but no, I won’t ask for it. Because if you really want to be here, you’ll have the power to deal with all the problems inside yourself. But if you don’t have it, then maybe you belong somewhere else.

FacebookTwitterGoogle+Share

Kehujanan

Beberapa hari ini saya sering kehujanan dalam perjalanan. Dan lucunya, hujan selalu mendekati saya. Beberapa kali orang lain memberitahu saya bahwa di daerah ini atau itu tidak hujan, tapi di tempat saya berada, selalu hujan. Dingin selalu saya rasa setiap hari. Celana, jaket, dan sepatu pun juga makin rajin dicuci.

Lalu hari ini, saya mengalami banyak hal di kampus. Pekerjaan yang saya lakukan tidak lancar, hal yang saya nantikan belum hadir, dan tugas yang sudah saya kerjakan dan sangat saya banggakan terpaksa dibatalkan. Saya masih sempat mengobrol bersama beberapa teman sambil tertawa. Ada yang memandang saya dengan empati, tapi saya bilang, saya tidak apa-apa. Saya biasa melakukan hal-hal yang taken for granted.

Lalu saya pulang. Kembali merefleksi apa yang saya alami hari ini, dan saya mulai menyadari… ini hari yang berat, saya kehabisan akal, dan ternyata tidak semudah ini menghadapinya. Jadi saya mulai mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Saya merasa kesal dan langsung curhat pada teman yang kemudian bilang: “Syukur kamu langsung nyadar kalau kamu tadi denial.”

Dan ketika suasana hati berubah menjadi buruk, tiba-tiba hujan turun. Saya terpana. Setelah berhari-hari hujan selalu turun ketika saya dalam perjalanan, di hari yang berat ini, ia turun ketika saya sudah aman berada di rumah.

Terima kasih, hujan, karena hari ini kamu mengerti.

FacebookTwitterGoogle+Share

Atap dan Matahari Tenggelam

image

Atap rumah dan matahari tenggelam adalah satu hal paling romantis di dunia. Ini mungkin lebih romantis dari menara di Paris, seikat mawar merah dengan wine, ataupun coklat kecil berbentuk hati. Ini adalah romantisme yang bisa dinikmati meskipun sendiri.

Atap rumah dan matahari tenggelam mudah sekali mendamaikan hati. Karenanya, saya bisa diam tanpa kata dalam waktu lama. Saya juga bisa menghentikan waktu dan memberi ruang pada kepala. Ada kesempatan untuk mengingat yang terlupa, menghitung yang diragukan, dan menilik apa yang tidak bisa dikendalikan.

Entah kenapa tak ada yang terburu-buru. Padanya saya bisa menenemukan lebih banyak cara untuk bersyukur. Padanya saya menjadi sedikit lebih damai. Selamat senja!

FacebookTwitterGoogle+Share

(Tidak) Sendirian

WP_20150307_001_processed

Saya sudah bersiap berangkat pagi tadi. Riuh konvoi sepeda motor partai politik sebenarnya membuat saya malas keluar rumah. Tapi apa boleh buat, besok saya harus mengumpulkan laporan tetapi printer di rumah rusak. Ketika saya akan berangkat, Papa menanyakan ke mana saya akan pergi. Saya jawab saya harus pergi ke rental komputer karena printer di rumah rusak.

Papa mengacak-acak rambut saya dan berkata dalam bahasa Jawa, “Jangan diselesaikan sendiri. Kalau ada masalah, bilang dan minta bantuan.” Beberapa menit kemudian kami berdua menghadap ke printer yang rusak serta sibuk berselancar di internet, mencari cara untuk membetulkannya. Dan, voila, akhirnya printer kembali siap dipakai.

Hal yang pertama ingin saya syukuri kali ini adalah tumben saya bisa akur sama Papa, biasanya kayak anjing dan kucing. Selain itu, saya merasa diingatkan. Saya terbiasa menyelesaikan permasalahan saya sendiri dan ujung-ujungnya merasa sendirian. Padahal, mungkin saya hanya perlu mengatakan kepada orang lain mengenai masalah yang saya hadapi, dan meminta bantuan. Jika saya terus diam, mungkin saya akan merasa sendirian. Padahal, sebenarnya kita tidak pernah sendirian. Mungkin persepsi kita bahwa kita sendirian terjadi karena kita tidak pernah mengajak orang lain untuk membantu atau menemani kita. Hmm…

 

FacebookTwitterGoogle+Share

Turunan dan Integral

image

Sewaktu SMA, saya sangat kewalahan dengan pelajaran Matematika, terutama materi turunan dan integral. Nilai saya tak pernah jauh dari angka tiga, empat, dan lima. Padahal untuk lulus saya butuh setidaknya angka 6. Stres.

Setiap kali mengerjakan soal turunan dan atau integral, kepala saya mendadak buntu. Saya selalu kesusahan menangkap pertanyaan apalagi menjabarkan soal menjadi langkah langkah hingga akhirnya menemukan jawabnya. Otak saya selalu menganggap turunan dan integral itu rumit dan kompleks. Sulit untuk dipecahkan. Stres berat!

Sampai suatu saat seorang teman di kelas bertanya kepada guru Matematika. Pertanyaannya menggambarkan kegalauan hati saya. Begini kurang lebih, ‘Pak, di kehidupan riil nanti, pelajaran turunan integral ini nantinya dipakai untuk apa ya? Sepertinya tidak ada gunanya’

Guru saya yang kebetulan agak nyentrik, menjawab dengan santainya:
Yo nggo ngel ngel urip, le..
(Ya sekadar untuk buat susah susah hidup..)

Astaga! Tanpa turunan dan integral hidup juga sudah susah.

Bagi ababil SMA, hidup sudah cukup rumit dengan berbagai tuntutan menjadi dewasa. Saya pun makin tidak semangat belajar matematika. Ingin rasanya saya pasrah. Menyerah untuk menekuni matematika dasar saja, yang lebih sederhana dan bisa dipahami. Tapi toh saya akhirnya tetap harus belajar turunan dan integral, karena kala itu saya ‘bermimpi’ bisa kuliah di jurusan tehnik.

Sepuluh tahun berlalu, saya sekarang baru paham benar mengapa saya belajar turunan dan integral. Mengapa anak SMA harus belajar menjabarkan pertanyaan matematika menjadi langkah langkah penyelesaian hingga menemukan jawabnya. Mengapa Pak Sidi kala itu menjawab ‘Yo nggo ngel ngel urip, le..

Turunan dan integral lebih dari sekadar materi matematika. Pelajaran ini melatih kemampuan kita untuk meng-handle hal hal rumit dan kompleks. Memecahkan masalah dengan memahami alur dan menggunakan logika. Belajar bertahan terhadap hal yang mungkin tidak kita suka. Karena menjadi ‘semakin tua’ menuntut banyak akan kemampuan itu.

Sepuluh tahun berlalu, mungkin pemahaman saya di atas masih belum penuh. Sepuluh tahun dari sekarang mungkin ada wisdom lain yang saya akan pahami dari pelajaran matematika turunan dan integral. Sepuluh tahun merupakan proses, dan harus disyukuri. Someday you will look back and know exactly why it had to happen.

 

FacebookTwitterGoogle+Share